Mengapa perlakuan Allah SWT selalu benar

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUBfQye5DF7thVI98GY8SRQQhrFzfK4vjr_OdxSHHoSFo0BCQMjZ77JsV9CNgRhdqhyawJd9-n0ylOV8KdrZr6kDbyvnLa2oZtVTO-OwUKWACOYyk1b3Vd7uMX99RlOIkFg7ruZTUnWYw/s1600/sufism.jpg
Membicarakan mengenai tenteng perbuatan Allah ,sebenarnya tidak terlepas dengan memahami tauhid dalam islam.Dalam islam sendiri perbuatan Allah itu diartikan sebagai af al Allah.Kalangan sufi biasa menggunakan pemandangn mengenai af al Allah ini. Pemandangan mengenai atau menyaksikan bahwa semua apapun yang terjadi adalah perbuatan/af al Allah.Dalam memandang kita harus benar-benar melatih sampai pada keyakinan bahwa perbuatan Allah dan mahklukNya tidak bercampur aduk,jika telah yakin benar dalam memandang af al Allah maka bisa dikatakan orang ini mampu menguasai tauhidul af al Allah SWT.
Tetapi apa yang terjadi jika ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa ,jika semua ini perbuatan Allah,berarti Allah itu salah karena Dia tidak hanya berbuat baik tetapi juga berbuat salah yang ditimpakan atau dilahirkan ke manusia.Dalam hal ini perlu di garis bawahi tentang perbuatan Allah yang salah tadi dalam kalimat.
Kita semua tahu bahwa Allah SWT itu Maha Kuasa atas segala sesuatu,Dia juga menciptakan segala sesuatu,Dia juga yang menciptakn benar dan salah,tetapi bukan berarti Allah itu berbuat salah.Anggapan seperti inilah yang sangat membahayakan jika seseorang yang baru tahu sedikit mengenai islam lalu mudah mengambilkeputusan dengan daya nalarnya tanpa diambil melalui bimbingan seorang guru atau pengalaman.
Allah memang berbuat dan menciptakan salah tetapi Allah tempatkan salah itu pada diri manusia.Tetapi bukan berarti jika Allah berbuat salah lalu Allah dikenai hukum salah.Apapun yang diperbuaat Allah entah itu benar atau salah pada hakikatnya adalah benar.Mengapa?.Sebab hukum benar dan salah itu ciptaan Allah SWT.Jika allah disalahkan seseorang karena perbuatannya yang melahirkan salah di diri manusia berarti Allah tidak Maha Kuasa.Atau dalam kata lain Allah Terkena hukumNya sendiri,sungguh perumpamaan ini sangat tidak baik sekali.Maha Suci Engkau Ya Allah!!!.
Cobalah untuk merenung dan berpikir sejenak jika anda belum benar-benar paham,dahulu sebelum Allah ciptakan hukum benar dan salah kan tiadak ada hukum satupun. lalu untuk yang pertama kalinya Allah berfirman Jadilah maka jadilah maka hukum yang awal muncul ketika itu adalah benarbukan salah.Sebab kesalahan belum diciptakan oleh Allah.Coba anda bayangkan ketika Allah berfirman Jadilah untuk yang pertamakalinya langsung dikenakan hukum salah, berarti hukum salah itu sudah ada dan Hukum itu menguasaiNya,sungguh perumpamaan yang buruk.Maha Suci Engkau Ya Allah!!.Padahal sebelum Allah berfirman Kun /Jadilah kan,, belum ada apa-apa.
Maha Suci Allah dari segala yang diumpamakan tadi.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.!!

Kontroversial pandangan terhadap Ibnu Arabi


Menurut pengakuan Ibnu arabi, kitab fusus Al- Hikam merupakanpemberian Nabi Muhammad saw kepadanya melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut Nabi Muhammad saw mengatakan ini kitab fusus Al Hikam , ambil dan sebarkan kepada umat manusia agar mereka mengambil manfaat. Dalam pengakuannya juga, Ibnu Arabi tidak pernah menulis yang mempunyai suatu maksud yang tertata, sebagaimana penulis-penulis lainnya pada umumnya. Penulisannya berdasarkan kilatan cahaya dari ilha Ilahi yang telah mendekatinya.Kalau karyanya dengan jelas menunjukkan suatu komposisi, hal ini sesuatu yang tidak sengaja. Dengan ilha Ilahi dan pengalaman ini, keyakinan Ibnu Arabi kepada Allah swt semakin bertambah mantap.

Dengan melihat tamsil atau gambaran yang dituliskan Ibnu Arabi dalam kitab fusus Al hikam sebagai bentuk bangunan pandangan Ibnu Arabi tentang whdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Banyak juga yang menilai bahwa Ibnu Arabi sebenarnya sedang membangun pandangannya dengan mengambil/meminjam perangkat-perangkat agama yang sudah mapan.

Dengan pandangannya itu sudah menjadi cirri khas Ibnu arabi di hamper semua karyanya selalu menampilkan gagasan keagamaan yang tidak lazim. Karenanya, selama perjalanan hidupnya sering kali Ibnu Arabi mendapat perlawanan dan kecaman dari berbagai kalangan, terutama kelompok kaum fuqaha dan ahli hadist yang terkenal literalis dan formalis, ini disebabkan karena teori tentang wahdatul wujud yang dianggap condong pada panteisme.

Phanteisme ialah kepercayaan bahwwa Tuha menjelma dimana-mana, bahwa segala yang wujud di ala m ini adalah perwujudannya .Sedagkan manunggaling kawula gusti secara literal berarti menyatu Hamba dan Tuhan.

Predikat negative yang melekat pada Ibnu arabi sehubugan dengan pandangan wahdatul wujud kian menguat setelah mendapat kritikan tajam dari Ibnu Taimiyah(w.728H/1328M).Menurut Ibnu Taimiyah wahdatul wujud bukanlah tauhid, melainkan panteisme terselubung yang mengingkari eksistensi Tuhan karena menganggap Tuhan ada di mana-mana dan menganggap alam semesta (termasuk-manusia)sebagai manifestasinya:ma tsama mawjud illa hadzal-‘alam Al-masyhud, yang artinya:tiada yang maujud kecuali alam yang disaksikan ini. Inti paham ini, tegasnya, mengidentikkan wujud Tuahn dengan wujud swgala yang ada:anna wujudal-ka’inat huwa ‘aynu wujudillah, yang artinya:Sesungguhnya wujud ala mini adalah kenyataan wujud Allah.

Ibnu Taimiyah tidak asal tuduh, beliau terkenal pemberani, jujur, dan bernalar tajam, sebagai bukti tuduhannya juga di tunjukkna yaitu:

Pada pembukaan kitab Al-Futuhat Al-Makkiyah yang berbunyi:
Tuhan adalah benar –nyata , tetapi hamba juga benar nyata.
Pertanyaan Ibnu Taimiyah:
  • Lantas siapa yang dibebani kewajiban?
  • Jika engkau katakana hamba, Dialah Tuhan.Tapi jika engkau katakan Tuhan, mengapa pula dibebani kewajiban?
Kitab Fusus Al-Hikam menyatakan:
  • Subhana man azh-hara al-asy-ya’a wa huwa ‘aynuha (Mahasuci Allah yang mewujudkan segala sesuatu dan menjadi esensi-Nya)
  • Sang kebenaran adalah Pencipta perspektif ini maka oahamilah, akan tetapi juga bukan ciptaan dari perspektif itu maka inagtlah!.

Dasar pernyataan Ibnu Arabi yaitu:surah Qaf ayat 16: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadannya dari pada urat lehernya.(Qs. Qaaf, 50:16).

Ibnu Taimiyah dan ulama tafsir seperti imam Al-Biqa’i(w.885H/1480M) dalam tafsirnya Nazhmu Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa as-suwar, Imam Al-Qurtubi (w.617H/1273M) dalam tafsirnya Al=Jami’ li-Alkamil-Quran pendapatnya :”Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” itu sebagai pernyataan figurative metaforis dan ini hanya merupakan perumpamaan kedekatan (hadza matsal fi farth Al-qurb).

Ungkapan-ungkapan.pernyataan uang pernah dikeluarkan pleh Ibnu Arabi beralasan, letak perbedaannya hanya terletak pada penafsiran dengan orang-orang yang menentangnya, contohnya:
Dalam kitab Futuhat Al- Makkiyah ketika ia menguraikan isi kandungan ayat Al-Mujaadilah ayat 7:
Tidakkah kamu perhatikan ,bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang dilangit dan di bumi?
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang ,melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada(pembicaraan antara)lima orang, melainkan Dialah keenamnya.dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.
Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telahmereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(Qs. Al-Mujaadilah, 58:7).

IbnuArabi, seorang pembaca yang cermat, dapat dengan mudah mengkap bahwa maksud ungkapan “wa la adna min dzalika”adalah dua orang, sedangkan “wa la aktsara”berarti tujuh orang atau lebih.

Ibnu Arabi kemudian mengajukan pertanyaan :
  • Kenapa di ayat tersebut dikatakan, jika ada tiga individu maka Allah adalah yang keempatnya, dan jika ada lima maka Allah yang keenam?
  • Kenapa bukan, Jika ada empat maka dia kelimanya, ataupun jika ada enam maka Dia ketujuhnya?
Jawabannya(lanjutnya) Ibnu Arabi: adalah karena Allah hendak menegaskan keesaan-Nya (annahu yuridu al-ifrad(, bahwa Dialah yang berdiri sendiri, yang wujudnya diperlukan namun tidak memerlukan yang lain. Dalam setiap jumlah tersebut Allah menjadi penggenap akan tetapi tidak termasuk didalamnya (yasyfa’uha(ya’ni an-najwa)bima laysa minha).

Dengan begitu….

Tambah Ibnu Arabi, Allah juga menunjukkan status keberadaanNya. Maksudnya, tak seorangpun dapat berdiri sendiri melainkan dengan wujudnya, digenapkan oleh Al Haq, karena ketunggalan Nya dan Ke EsaanNya semata. Hatta la takuna Al-ahadiyatu illa lahu yang artinya:sehingga tidak ada keesaan kecuali bagiNya.

Oleh karena mahluk mustahil dapat menggenapkan Nya, tetapi sebaliknya Dia yang menggenapkan mahluk, firman Allah ta’ala:
Wahuwa ma’akum aina maa kunntum
Ibnu Arabi kemudian mengajukan pertanyaan lagi:
  • mengapa bukan sebaliknya?
  • Mengapa Allah tidak mengatakan :wa antum ma’a Hu aynamakana(dan kalian bersama Nya dimana saja Dia berada)?
Jawabannya(lanjutnya) Ibnu Arabi: karena mustahil bagi mahluk dapat kita(fa-ya’lamu subhanahu kayfa yash-habuna wa la na’rifu kayfa nash – habuHu).

Dasar pernyataan Ibnu Arabi juga ada.
Singkatnya, tafsir dari surah Al-Hadiid ayat 4, menurut Ibnu Arabi ialah: Kebesertaan hanya mungkin bagi Nya, tetapi mustahil bagi kita(fa Al-ma’iyyah lahu tsabitah fina, manfiyyah ‘anna fihi).
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa:Kemudian Dia bersemayam di atas arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada Nya. Dan Dia bersam kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah MahaMelihat apa yang kamu kerjakan(QS.Al-Hadiid,57:4).

Ibnu Taimiyah dan beberapa ulam tafsir ber[endapat :Ibnu arabi dan pengikutnya tergelincir ketika menafsirkan/memahami ayat ini

Disini Tampak ambivalensi/dualisme Ibnu Arabi. Disatu sisi terkesan menganut panteisme dan di sisi lain terkesan menolaknya. Namun, sikap mendua Ibnu Arabi ini juga ditangkap oleh Ibnu Taimiyah.
Dan Ibnu Taimiyah juga berpendapat bahwa Ibnu Arabi lebih dekat ke Islam dari pada panteisme.
Keraguan Ibnu Taimiyah pada akhirnya terjawab setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athoilah As-Sakandari Asy-Syadzily disebuah masjid di kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu Arabi.
“Kalau begitu yang sesat itu adalah pandanagn pengikut Ibnu Arabi yang tidak memahami makna sebenarnya “,komentar Ibnu Taimiyah.

Catatan :Jika pembaca bingung dengan penjelasan artikel ini silahkan dipelajari dahulu sifa 20.
Sumber :WUJUD
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Shalat sunat witir termasuk sebagian dari shalat rawatib karena itu shalat witir lebih utama dari shalat sunat yang lainnya karena diterangkan di dalam hadis: اِنَّ الله َ اَمَرَ كُمْ بِصَلاَهٍِ هِيَ خَيْرُ لَكُمْ مِنْ خُمُرِ النِّعَمِ وَهِيَ الْوِتْرُ “Allah telah menganugerahkan kamu suatu shalat yang lebih baik bagi kamu dari menyedekahkan beberapa ekor unta, yang lebih baik ialah shalat witir” (HR. Turmuzi dan Hakim dari Kharijah bin Hazafah). Sekurang-kurangnya jumlah rakaat shalat witir satu rakaat, dan sebanyak-banyaknya sebelas rakaat dan antara satu dan sebelas rakaat itulah yang pertengahan.Dan shalat witir hanya dikerjakan ganjil rakaatnya,tiga rakaat,lima rakaat,tujuh rakaat, atau Sembilan rakaat.Kalau shalat witir dikerjakan genap umpamanya empat rakaat atau delapan rakaat tidaklah terhitung shalat sunat witir, tetapi berubah menjadi shalat sunat yang lainnya dan tidak mendapat pahala seperti shalat witir,tetapi mendapat pahala seperti shalat sunat lainnya.Inilah yang dinaskan oleh Syekhul Islam di dalam kitab “Syarah Raudah”,Syekh Ibnu Hajan di dalam kitabnya “Fathul Jawad” yang berbeda dengan yang ditulis oleh Syekh Ibnu Hajar didalam kitabnya “Tuhfah” yang mengatakan diberi pahala sama dengan pahala shalat witir sebagaimana orang yang menggabungkan shalat sunat witir dengan shalat sunat tarawih.Dinamakan witir karena jumlah rakaatnya sebelas. Imam Nawawi berkata di dalam kiitabnya “Ma’mu” sekurang-kurangnya jumlah rakaat shalat witir yang paliangbaik adalah tiga rakaat dan sesudah itu lima rakaat dan sesudah itu tujuh rakaat dan sesudah itu Sembilan rakaat. Kalau shalat sunat witir dikerjakan lebih dari ebelas rakaat maka tidaklah sah shalat witirnya, karena Nabi saw bersabda: مَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَبِخَمْسٍِ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِثَلاَثٍِ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍِ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan lima rakaat, maka perbuatlah. Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan tiga rakaat, maka perbuatlah. Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan satu rakaat, maka perbuatlah” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Nasai dari Abi Ayyub). Dalam hadis lain diterangkan: اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍِ اَوْسَبْعٍِ اَوْاِحْدٰى عَشَرَفَلَوْزَادَعَلَيْهَا لَمْ يَصِحْ وِتْرُهُ “Kerjakanlah shalat witir lima rakaat, tujuh rakaat, sembilan rakaat atau sebelas rakaat. Maka kalau lebih dari itu, tidaklah sah witirnya” (HR. Daraquthni). Waktu mengerjakan shalt witir adalah antara waktu isya sampai dengan terbit fajar shadik dan kalau dikerjakan shalat sunat witir sebelum waktu isya maka berubah menjadi sunat mutlak.Shalat sunat witir dikerjakansesudah mengerjakan shalat malam dan melambangkan shalat witir sampaiakhirmalam labih baik kalau sudah terbiasa bangun malam.Nabi saw bersabda: اِجْعَلُوا اٰخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراًَ “Jadikanlah shalat witir kamu dari shalat yang terakhir pada waktu malam” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar). Dan kalu tidak terbiasa tengah malam maka shalat witir boleh dikerjakan pada awal malam seperti yang diterangkan oleh Rasulullah: مَنْ خَافَ اَنْ لاَيَقُوْمَ مِنْ اٰخِرِاللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَمَنْ طَمَعَ اَنْ يَقُوْمَ اٰخِرَهُ فَلْيُوْتِرْاٰخِرَاللَّيْلِ “Barang siapa takut tidak terbangun pada tengah malam, maka hendaklah dikerjakan witir pada awal malam. Dan barang siapa yang ingin bangun pada pertengahan malam, hendaklah dikerjakannya witir pada akhir malam” (HR. Muslim dari Jabir). Bagi orang yang mengerjalan shalat witir lebih dari satu rakaat boleh menggabungkannya dalam satu salam pada rakaat terakhir dan boleh dengan dua kali tahyat pada rakaat terakhir, karena kedua cara ini diriwayatkan oleh Muslim dari Rasulullah. Namun dengan satu tahyat lebih afdhal dan menggabungkan dengan dua kali tahyat karena terlepas dan kemiripan dengan shalat magrib.Kalau shalat witir digabungkan menjadi tiga rakaat, tidak boleh disambung melebihi dari dua tahyat dan tidak boleh dikerjakan yang pertama dua tahyat sebelum selesai dua rakaat yang kedua karena yang seperti itu menyalahi dari yang diperbuat oleh Nabi saw. Menceraikan antara dua rakaat dengan salam umpamanya berniat untuk mengerjakan dua rakaat lebih atau dan menggabungkan dalam beberapa rakaat, karena hadis yang menerangkan diceraikan lebih banyak dari yang digabungkan seperti yang diterangkan dalam kitab”Majmu”.Diantaranya hadis yang disepakati bahwa Nabi mengerjakan shalat witir antara isya dan terbit fajar sebanya sebelas rakaat dan member salam pada setiap dua rakaat dan sesudah itu dikerjakannya lagi satu rakaat sesudah itu member salam dan membaca bacaan-bacaan lain. Adapun orang yang melarang menceraikan dan wajib menggabungkan seluruhnya dalam satus alam saja seperti Imam Abu Hanifah dan pendapt ini jelas menyalahi sunnah yang sahih karena itu dapat dikatakan pendapat ini tidak dapat diperpegangi.Sebagian sahabat Syafi;I hanya memakruhkan menggabungkan seluruh rakaatnya dalam satu salam.NAmun sebagian ulama seperti al-Qaffal dan Kadi Husein mengatakan menggabungkan seluruh rakaatnya dijadiakan dalam satu salam membatalkan shalat karena jelas yang seperti itu dilarang karena menyerupai dengan magrib.dan sunat tidak mengulang shalat witir sekalipun shalat tahajud dikerjakan sesudahnya.karena Nabi saw.bersabda: لاَوِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍِ “Tidak ada dua witir dalam satu malam” (HR. Abu Dawud dan Turmuzi dan Thaliq bin Ali – Turmuzi berkata Hadits ini hasan). Kalau shalat sunat witir dikerjakan tiga rakaat maka sunat dibaca sesudah surah Fatihah pada rakaat pertama surah al-Ala,pada rakaat kedua sesudah Fatihah dibaca surah al-Kafirun,pada rakaat ketiga sesudah surah Fatihahmembaca surah al-Ikhlas,al-Falaq, an-Nas.Karena yang sepeti ini telah diriwayatkan Nabi saw. Dalam shalat witir pada bulan Ramadhan disunnatkan berjamaah sekalipun sebelum witir telah dikerjakan shalat tarawih berjamaah atau tidak berjamaah. (Kitab Sabilal Muhtadin 561-565)

Tugas Manusia (Bagian Ketiga)

Jika manusia mengikatkan diri dengan dunia sekelilingnya (mumkin),maka jiwanya akan terbelenggu.oleh sebab itu,manusia harus sadar dan mawas diri untuk brusaha mengetahui siapa diri ini sebenarnya. Kesadaran mawas diri untuk mengetahui siapa sang diri ini sebenarnya tidak akan diperoleh dengan serta merta, namun memang harus dilakukan dengan latihan yang didasari ilmu pengetahuan yang baik dan benar supaya memperoleh pengalaman langsung ebagaimana yang telah dicontohkanoleh para sufi atau arif-billah. Dan Dia menundukkan malam dan siang,matahari dan bulan unukmu.dan bintang-bintang itu ditundukkan(untukmu) dengan perintah.Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda(kekuasaanAllah) bagi kaum yang memahami (Nya).(QS.An Nahl, 16:12). Allah menundukkan dan mengatur peredaran matahri,bintang dan bulan dengan perintah-Nya.Peraturan inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta,sebagaimana harus bertingkah laku. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang ,matahari dan bulan.masing-masing dari keduanya itu beredar didalam garis edarnya(QS.Al Anbiyaa’, 21:33) Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya,padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu;Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. An Naml,27:88). Ini juga disebut hokum alam atau peraturan yang diikuti oleh alam. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap,lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:”Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab:”Kami datang denga suka hati” .(Qs. Fushilat,41:11). Ayat ini membuktikan bahwa matahari,bumi,bulain dan seluruh alam taat mengikuti segala perintah dan aturan Allah swt.Peraturan yang telah ditetapkan Allah itu tidak berubah selamanya.Firman-Nya: “Sebagai sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu”.(QS. Al-Fath,48:23). Apabila pandangan hati, jiwa, dan tubuh kita luruskan kepada Allah,tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah-Nya,selalu merasa dekat dengan-Nya,selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat.Kita akan merasa bahwa setiap perilaku dan gerak-gerik kita berada dalam pengawasan Allah.ibarat seorangartis sinetron akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan peranannya,berakting dengan penuh penghayatan dan berupaya untuk tidak menyalahi scenario yang telah ditentukan sang sutradara.Sebagaiman firman-Nya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,maka (jawablah),bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku,agar mereka selalu berada dalam kebenaran(QS.Al-Baqarah,2:186) Demikianlah pandangan pemikiran yang sederhana dan logis ,jika kita mau menerimanya, bahwa adanya diri(mikrokosmos), dan alam semesta(makrokosmos),telah mengajak kesadaran untuk sampai kepada pembuktian adanya Tuhan(Allah). Dapat ditarik kesimpulan bahwa tubuh ini akan taat seperti taatnya matahari dan bulan.Ia akan hidup teratur seperti teraturnya matahari serta planet-planet menurut garis edarnya,sehingga tidak berbenturan.Ia akan patuh seperti patuhnyanmalaikat(fitrah yang ditetapkan Allah kepada manusia). Peran manusia telah ditetapkan, diatur dengan sangat rapi sekali.Bukan hanya ukuran fisik,tapi juga berapa besar rejeki,keterampilan,daya piker,dan juga waktu yang diijinkan menghirup udara segar didunia. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya(QS. Al Furqaan, 25;2). Oleh karena itu, manusia yang sadar sebagai khalifatullah hendaknya berakhlak dengan alhlak Allah,berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan member keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah. Sumber: BUKU : WUJUD (MANUSIA) Hb.Zulkifli bin Muhammad bin Ibrahim Banahsan bin Syahab If.Sentot Budi Santosa bin Danuri bin Abdullah

Tugas Manusia (Bagian Kedua)

Iblis beserta kroni-kroninya atau anak cucunya bersumpah akan menyesatkan manusia dengan cara apapun dan dari jalan manapun. Hal ini dapat dilihat dala Al-Quran Surah Al-A’raaf ayat16-17 dan An-Nisaa’ ayat 118-119 yang berbunyi: Iblis menjawab,”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (Qs.Al-A’raaf, 7:16) Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka,dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur(taat).(QS. Al-A’raaf,7:17). Sesungguhnya pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan jahat untuk mencelakakan manusia. Yang dila’nati Allah ,dan syaitan itu mengatakan, “kami benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk kami)”.(QS. Nisaa’, 4:118). Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak),lalu mereka benar-benar memotongnya,dan aku suruh mereka(mengubah ciptaan Allah),lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barang siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.(QS.Nisaa,4:119). Peristiwa ini juga diceritakan dalam surah Al-Israa’ ayat 62-64: Ia (iblis)berkata, Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau member tangguh kepadaku sampai hari kiamat,niscahya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebagian kecil(QS. Al- Israa’ 17:62). Pergilah,barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya Neraka Jahanam adalah balasanmu semua,sebagai suatu pembalasan yang cukup(QS. Al-Israa’, 17:64). Dan bawalah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaithan kepada mereka melainkan tipuan belaka.(QS.Al-Israa’,17:64) Dengan melihat dialog Allah dengan malaikat dan Iblis ,kejadian manusia, perintah Allah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah.Sebagai khalifah seharusnya dan selayaknya menyesuaikan dengan yang mengangkatnya dirinya sebagai khalifah. Apakah daku bisa dan bagaimana caranya? Menghayati hakikat manusia bisa dimulai dari kesadaran fisik sampai kepada kesadaran diri pribadi yang sejati.Dengan inilah manusia dapat menunaikan pengabdiannya kepada Allah sebagaimana fitrahnya.Sebagaiman firman Allah: Maka hadapkan lah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah.(itulah) agama yang lurus;tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui(QS.Ar-rum, 30:30). Kalau kita mau mempelajari Al-Quran, didalamnya terdapat banyak penjelasan tentang apa dan siapa manusia itu sebenarnya.Namun,yang demikian ini tidak akan menjadi suatu kesadaran apabila kita tidak pernah membawa pikiran, jiwa sertaperasaan kepadafitrah kejadiannya. Penyebabnya adalah karena kebanyakan manusia terlena dengan alam kebendaan.Jadi,bukan ilmu tasawuf yang sulit dimengerti. Contoh sederhana seorang bayi yang lahir dari rahim ibu: · Bayi lahir bukan atas permintaan dan kehendaknya · Bayi tidak mengerti untuk apa dilahirkan · Bayi tidak punya apa-apa bahkan malupun tidak punya Orang sekitar memberikan kasadaran.Bayi mulai dikenalkan dengan dirinya bahwa namanya si fulan.kemudian diajarkannya nama-nama,ini telinga,ini kepala,ini hidung,ini tangan,ini kaki,dan seterusnya dengan batasan kesadaran yang sangat sempit sekali. Kesadaran sempit ini membuat diri terbelenggu dana bias tersesat dalam ketidaktahuansiapa diri ini yang sebenarnya. Ikuti kelanjutan artikel ini di postingan berikutnya!

Tugas manusia (Bagian Pertama)

Sesuai dengan pandangan di Postinga sebelumnya,tugas manusia adalah untuk beribadah kepada Allah swt Sang Maha Pencipta. “dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(Qs. Adz-Dzariayaat. 51:56). Ayat diatas akan memunculakan pertanyaan dalam benak kita. Mengapa daku harus mengapdi? Apakah Allah membutuhkan daku? Kalau anda hanya mengandalkan otak tentu akan sulit menjawab pertanyaan di atas. Sebenarnya disetiap permasalahan yang terjadi pada anda ada sosok Yang Serba Maha yang begitu absolut selalu menyertai di setiap segala perkara dan segala sesuatu, maka untuk memahaminya harus disertai rasa iman kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya: “Aku tidak menghendaki rezeki sedikitoun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka member-Ku makan”.(QS.Adz Dzariyaat, 51:57). Kalau manusia berkarya (menggunaan segala rahmat-Nya), bikin mesin, rumah, atau apa saja yang pada hakikatnya adalahuntuk meningkatkan mutu kehidupan bagi manusia sendiri(mengambil faedah), maka sudah sewajarnya kita harus tunduk dan patuh kepada-Nya. “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri ,Kemudia kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”.(QS.Al Jaatsiyah.45:15). “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelumu, agar kamu bertakwa”.(QS, Al Baqarah,2:21). Beribaadah ber arti melaksanakan segala sesuatu yang baik dan hanya mengharap ridha Allah.Bertakwa artinya menjalankan segala yang diperintahkan oleh-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya serta mengikuti junjungan Nabi Muhammad saw. Selain itu manusia diberi kepercayaan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah(pemimpin) dimuka bumi.Tugas kekhalifahan ini tertulis dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” Semua manusia secara potensial diciptakan menjadi khalifahtullah. Namun agar potensi tersebut menjadi nyata. Harus memiliki beberapa criteria, antara lain ilmu, iman ,amal saleh,dan masih banyak lagi. Jika anda mengikutinya secara runtut insya Allah akan terjawab. Kekhalifahan atau kepemimpinan dimulai dari memimpin diri(hawa nafsu)nya sendir, keluarga, kemudian berkembang ke memimpin lingkungan yang lebih luas. Kepercayaan Allah terhadap manusia awalnya dipertanyakan oleh malaikat maupun iblis, tetapi dengan alasan yan berbeda. Malaikat mempertanyakan karena melihat manusia suka saling berbunuhan sedangkan iblis protes, karena merasa dirinya lebih tinggi derajatnya dari pada manusia yang dibuat dari tanah. Setelah Allah menjelaskan, malaikat mengikuti perintah Allah dan mengakui kekhalifahan manusia, tetapi iblis tetap membangkang. Hal ini terlihat dari dialog Allah dengan malaikat dan iblis. “…..Mereka (maliakat) berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumu itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?”Tuhanmu berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. (Qs.Al-Baqarah:30). Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu(adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, Kemudian Kami katakan kepada para malaikat :”Bersujudlah kamu kepada Adam”. Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. (QS. Al A’raaf. 7:11) Allah berfirman, “Apakah yang menghalangmu untuk bersujud (kepada Adam)di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab,”saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang ia Engkau ciptakan dari Tanah”.(QS AlA’raaf, 7:12). ….iblis berkata aku akan sujud kepada orang yang engkau ciptakan dari tanah?”(QS Al-Israa’.17:61). Allah berfirman turunlah kamu dari surgaitu;karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termaksud orang-orang yang hina”.(QS.Al-A’raaf,7:13). Iblis tetap bersikukuh ingkar terhadap perintah Allah meskipun diancam dengan neraka Jahanam.Akan tetapi,iblis minta kepada Allahswt untuk dapat terus hidup hingga hari kiamat dan meminta ijin untuk membujuk manusia supaya mengikuti jalan sesatnya. Allah mengijinkannya permintaan iblis tersebut. Iblis menjawab, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” .(QS.Al-A’raaf,7:14) Allah befirman, “Sesungguhnya kamu termaksuk mereka yang diberi tangguh.” (QS.Al-A’raaf, 7:15).

Rekayasa Yahudi-AS Kurung Muslim Sampai Akhir Hayat

Rekayasa Yahudi-AS Kurung Muslim Sampai Akhir Hayat
Sumber:suaramedia.com Pengadilan di Texas, AS, telah menjatuhkan hukuman 65 tahun penjara kepada seorang mantan kepala yayasan amal Muslim karena memberikan bantuan kepada kelompok pejuang Islam Palestina, Hamas. Shukri Abu-Baker, mantan direktur eksekutif yayasan terebut, dan Ghassan Elashi, mantan ketuanya, dua dari lima karyawan Holy Land Foundation tahun lalu didakawa telah memberikan lebih dari $ 12 juta untuk Hamas. "Saya melakukannya karena saya peduli, sukarela, bukan atas perintah dari Hamas," Abu-Baker mengatakan kepada sebuah pengadilan Texas pada Rabu, menurut sebuah laporan dari situs Dallas Morning News. Salah satu pendiri Holy Land Foundation, Mohamed El-Mezain, yang merupakan saudara Mousa Abu Marzook, wakil pemimpin Hamas, telah dihukum 15 tahun penjara untuk memberikan bantuan kepada kelompok tersebut. Dua karyawan lainnya Mufid Abdulqader dan Abdulrahman Odeh sedang menunggu keputusan penjatuhan hukuman pada hari Rabu nanti. Abu-Baker dan Elashi divonis atas gabungan dari 69 tuntutan, termasuk mendukung organisasi "teroris", pencucian uang dan penipuan pajak. Abdulqader dan Odeh divonis untuk tiga macam konspirasi. Holy Land Foundation, yang sebelumnya adalah yayasan amal Muslim terbesar di AS, sendiri divonis atas 32 tuntutan. Persidangan sebelumnya berakhir pada bulan Oktober 2009 dengan satu orang tidak bersalah atas 31 tuntutan, namun para juri tidak dapat menemukan kata sepakat atas yang lainnya. Jaksa mengatakan yayasan tersebut telah telah menyebarkan ideologi Hamas dengan mendanai sekolah, rumah sakit dan program-program kesejahteraan sosial yang dikontrol oleh kelompok tersebut di wilayah Palestina, dan memungkinkan mereka untuk mengalihkan dana tersebut untuk kegiatan perang. Pendukung Yayasan tersebut menduga bahwa pemerintah telah ikut campur tangan dan menjadikan kasus tersebut sebagai bagian dari apa yang disebut teror perang dan mengabaikan misi utama yayasan amal tersebut dalam memberikan bantuan kepada sangat miskin wilayah Palestina. Mereka berkata tidak ada uang yang digunakan untuk membiayai kekerasan, dan kasus tersebut sebenarnya hanyalah "produk sampingan" dari apa yang disebut sentimen anti-Islam setelah serangan 11 September di tahun 2001. Tetapi jaksa berpendapat bahwa bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh yayasan tersebut mengizinkan Hamas untuk mengalihkannya untuk mendanai kegiatan-kegiatan militan. Juri telah mencapai keputusan bersalah tahun lalu, setelah delapan hari dari pembahasan dan diikuti sidang ulangan dari terhadap yayasan yang berbasis di Texas tersebut. Itu adalah persidangan mengenai pembiayaan "terorisme" terbesar sejak serangan 9 / 11. Dakwaan terhadap yayasan tersebut menyatakan bahwa mereka mensponsori anak yatim dan keluarga Palestina di Tepi Barat dan Gaza yang saudaranya telah meninggal atau dipenjara sebagai akibat dari serangan Israel. Pejabat pemerintah telah mengrebek pusat yayasan Holy Land Foundation tersebut pada bulan Desember 2001, dan George Bush, Presiden Amerika Serikat, kemudian mengumumkan bahwa perampasan aset yayasan tersebut sebagai "langkah lain dalam memerangi terorisme". Yayasan tersebut ditutup dan aset mereka telah dibekukan pada tahun 2001. Sementara itu, pengacara pembela mereka mengatakan kliennya dibawa ke persidangan karena mereka memiliki ikatan keluarga dengan anggota Hamas, Khaled Meshaal, pemimpin politik Hamas yang diasingkan di Syria, yang juga merupakan saudara Abdulqader, salah satu dari lima terdakwa. Sebagai alasan banding, pengacara yayasan tersebut diharapkan untuk memberi kesaksian balasan terhadap kesaksian yang diberikan oleh agen pemerintah Israel yang namanya disembunyikan dengan alasan keamanan. Berikut adalah kelima terdakwa kasus ini. Ghassan Elashi, 55, berasal dari Richardson. Ia membantu mendirikan Holy Land Foundation, yang kemudian berubah nama menjadi The Occupied Land Fund. Yayasan tersebut dipindahkan dari California pada tahun 1992 dan pada saat yang sama, Elashi resmi menjadi warga AS. Elashi, yang lahir di Gaza bersama saudaranya mendirikan InfoCom, sebuah perusahaan komputer di Tanah Suci. Dalam sidang Holy juri menyatakan ia bersalah atas 35 tuduhan termasuk mendukung Hamas, pencucian uang dan penipuan pajak, dan akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup. Kemudian Shukri Abu Baker, 50, kelahiran Brazil pada tahun 1959, pindah ke wilayah Palestina sedari kecil dan tinggal di Kuwait sebelum pindah di AS pada tahun 1980. Dia menjabat sebagai CEO Holy Land. Sama seperti Elashi, ia juga dijatuhi hukuman bersalah atas 35 tuduhan termasuk mendukung Hamas, pencucian uang dan penipuan pajak. Baker dijatuhi hukuman seumur hidup. Mufid Abdulqader, 49, dan Abdulrahman Odeh, 49, kelahiran Tepi Barat pada tahun 1959. Abdulqader, warga resmi Amerika, merupakan seorang sukarelawan Holy Land Foundation. Dia adalah seorang mantan insinyur Dallas yang mengawasi renovasi Bishop Arts District. Juri menyatakan mereka bersalah atas tiga tuduhan termasuk konspirasi dalam memenuhi dukungan material terhadap organisasi teroris internasional, konspirasi penyediaan dana, barang dan jasa, dan mengaku melakukan pencucian uang. Mereka diperkirakan akan dijatuhi hukuman 55 tahun penjara. Mohammad El-Mezain, 55, adalah seorang imam sebelum pindah ke California untuk menjalankan Holy Land Foundation di tahun 1999. Juri menganggap ia bersalah atas penyediaan dukungan terhadap Hamas. Dia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Memahami kehendak Allah SWT

Memahami kehendak Allah SWT
Pergi ke kampong memang mengasikkan.Tetapi setelah naik di bis antar kota ke resahan mulai muncul.Sebenarnya ceritanya begini.!.Tanggal 2 desember 2012 lalu.Saya memutuskan pulang ke Desa yaitu Ponorogo.Saya memutuskan naik bis untuk kesana.Saya masuk lalu duduk. Diawal perjalanan saya disuguhi pemandangan yang sebenarnya itu adalah sesuatu yang lumrah,jika anda pergi naik bis ke luar kota.Yaitu, pengamen!!!.Awalnya saya ter hibur karena lagu dan hiburan yang dibawakan.pengamen itu.Terlebih saya masih punya sedikit uang untuk memberikan uang. Ditengah perjalanan setelah beberapa lama.Datang lagi pengamen.Saat itu saya masih ada uang untuk memberikan uang .Tetapipada saat itusaya mulai berbikir.”Gimana kalau ada pengamen lagi??.apa yang harus saya berikan lagi!”.Ternyata yang aku khawatirkan terjadi,selang beberapa lama masuk lagi pengamen.Termaksud sifat saya, saya merasa malu jika tak bisa member sedikit uang kecil kepada orang yang sebetulnya lebih membutuhkan di banding saya.Saya sempat berpikir sejenak ketika pengamen itu melantunkan lagunya.”Saya sebenarnya ada uang kalau untuk member ,tetapi uangnya sangat besar jumlahnya alias tidak ada uang receh ,masak pengamen diberi uang lima ribuan,kan masih ada yang lebih membutuhkan disbanding pengamen itu!!!”.Timbullah rasa ragu pada janji Allah pada firmannya “jika uang yang dinafkahkan di jalan Allah tidak akan bisa habis “.Sempat saya bilang begitu pada batin saya.Tetapi pada ujungnya saya tidak juga memberikan uang itu meski tidak ada uang kecil.Sya juga sempat berpikir dan memarahi diri saya:”kamu orang bodoh kenapa?!,apa kamu ragu?!,apa kamu lebih mementingkan dirimu?!,kamu bodoh,apa kamu buta para orang-orang yang bertakwa berjuang dijalan Allah dengan sekuruh jiwa dan raga untuk kebenaran.Mengapa kamu hanya menyisihkan uang limaribu saja tidak mau!!.kan masih ada uang yang lain,tidak kok kalau kami mati dengan kehilangan uang sebesar lima ribu.”Meski saya berkata seperti itu dalam batin tetap saya tidak memberikan uang pada pengamen selanjutunya.Entah apa yangterjadi pada diri saya saya merasa gelisah jika ada orang yang susah tetapi saya hanya diam saja. Waktu perjalanan pulang juga naik bis seperti biasa ada pengamen disana.Awal mengamen saya berikan uang karena saya ada uang kecil dari rumah didesa.Yang saya sayangkan ,kenapam saya tidak mempersiapkan uang sebelumnya saya lupa,Sebelum berangkat memang saya diberi uang jajan sebesar tujuh puluh ribu.yaitulima puluh dan dua puluhan.tetap saja besar jika hanya untuk uang ongkos pengamen.Ditengah perjalanan saya ,ada pengamen ,hati saya mulai bergejolak dan saya berkata:”Sekarang apa yang akan kamu lakukan jika seperti ini!!.apa kamu bertindak bodoh seperti kemaren !!Apakamu takut kehilangan uang yang sebenarnya bukan milikmu.,jika kamu merasa memiliki uang itu berarti kamu tidak lebih dari sekedar sampah ,aib bagi uamt yang suci ini.!!”.Saya kemudian teringat telah diberikan uang sebelum berangkat pulang oleh orang desa sebesar tujuh puluh ribu.Pada saat itu saya merasa Allah telah memberikan keluasan razekinya sebelum saya bersedekah. akhirnya saya berikan juga uang dengan jumlah yang besar untuk sekali ngamen orang itu. Disini dapat disimpulkan jika Allah itu pemberiannya sangat luas dan jangan pernah ragu sedikitpun oleh apa yang telah difirmankan Nya.

HAKIKAT MANUSIA

Hakikat Manusia Dari masa ke masa permasalahan pokok yang sejak jaman dahulu sampai sekarang menjadi topic pembahasan dalam keilmuan islam ialah diri manusia. Dalam Postingan akan dibahas mengenai perihal hakikat manusia,yaitu tentang kesadaran diri. Setiap manusia pasti terdorong untuk memikirkan eksistensi.Sebab manusia senantiasa terbayangi pertanyaan-pertanyaan besar ,mula-mula bersifat historis lalu psikologis kemudian berubah menjadi suatu pertanyaan yang mendesak membutuhkan jawaban. Dari mana saya datang? Apakah keberadaanku bagaikan terlahir begitu saja? Aku yang kehilangan arah, mawas diri menyelidiki diriku.Siapakah aku ini?Mengapa aku diciptakan? Apakah tujuan hidup ini? Mengapa aku diberi bekal akal dan kehendak? Apakah artinya?Mengapa aku bereksistensi? Kemana terminal akhir dari perjalanan singkat di muka bumi ini? Ada apa setelah mati? Apakah kehidupan berakhir setelah datangnya kematian? Bagaimana caraku menyingkap rahasia semua ini? Dengan melihat pertanyaan-pertanyaan diatas,berarti mengemukakan masalah kebebasan dan masalh tanggung jawab.Hal ini membawa kita kepada penelitian mengenai dasar dari asal usul.Baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi tanggung jawab. Hal tersebut akhirnya memunculkan masalah ketuhanan. Dari mana alam semesta yang besar ini berasal ? Ataukah ada Khaliq/Pencipta yang mengadakan saya? Siapakah Dia?Apa hubungannya dengan-Nya? Apakah eksistensi manusia itu cukup dalam dirinya sendiri? Ada apakah dengan sabda rasulullah Nabi Muhammad saw. Man’arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Apakah manusia yang terlibat secara aktif didalamnya? Kecenderungan-kecenderungan tersebut diatas merupakan naluri manusia yang tiddak bias dipungkiri, sebab memang demikian keadaannya. Pada setiap pribadi manusia memiliki naluri untuk berkepercayaan dalam pengertian apapun, baik yang benar maupun yang batil.Predikat khalifah tidak hanya berlaku bagi Nabi Adam as saja, melainkan berlaku bagi semua manusia tanpa kecuali, karena manusia dengan kesempurnaan kejadiaannya diberi kemampuan untuk mengatur da mengolah alam.Manusia sedikit banyak dapat mengetahui rahasia alam, sedangkan semua itu tidak berlaku bagi semua mahluk-mahluk lainnya. Hakikat manusia sebagai khalifah mengarah kepada kecenderungan tertentu dalam memahami diri manusia diri manusia sendiri. Hakikat mengandung sesuatu makna yang tetap, Tidak berubah-ubah.Allah adalah puncak segala kebaikan dan kesempurnaan. Dengan demikian, manusi adalh wakildari kebaikan dan kesempurnaan-Nya. Namun,seperti yang anda lihat ,bagaimana dengan kenyataan umat manusia zaman kini?Bisakah manusia dikatakan wakil dari kebaikan dan kesempurnaan-Nya?Tentu anda lebih tahu seutuhnya? Bagaimana supaya menjadi khalifatullah seutuhnya? Ikuti postingan saya selanjutnya mengenai tugas manusia .Insya Allah terjawab. Sumber: Dari Buku : WUJUD (menuju jalan kebenaran) Oleh: Hb.Zulkifli bin Muhammad bin Ibrahim Banahsan bin Syahab If.Sentot Budi Santosa bin Danuri bin Abdullah

ARTI TASAWUF

ARTI TASAWUF



Asal kata Tasawuf ada beberapa teori yang menyatakan antara lain:

a)      Berasal dari kata shafw,artinya bersih atau Shafaa.
b)      Beraasal dari kata Shuffah,Yaitu suatu kamar disamping masjid Rasullullah dikota Madinah.
c)      Berasal dari kata Shaff,yaitu barisan di kala sembahyang shalat
d)     Berasal dari kata Shaufanah, yaitu sejenis buah buaahan yang kecil berbulu dan banyak tumbuh di padang pasir dimana bahan baju kaum sufi berbulu seperti buah itu,dalam kesederhanaanya.
e)      Berasal dari kata Suf (kain Wol).dalam sejaarah sufi para orang sufi meninggalkan kemewahannya dan memakai kain wol yang kasar ,hal ini menunnjukkan kesederhanaan yang melambangkan jauhnya dari dunia.

Diantaara semua pendapat itu,pendapat dua yang ter akhir (Shaufanah dan suf)yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. JadiSufi adalah oaring yang menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani.Tashawwafa arrajulu:Qad shaara arrajulu Shuufan. Yang artinya seorang laki-laki yang telah metasa wuf.Maksudnya telah berpindah dari kehidupan biasa ke dunia sufi.Dahulu pakaian para sufi dengan hamper-hampir menyerupaikain Goni dalam kesederhanaanya. Maksudnya,membuang pakaian yang sebelumnya mewah ke pakaian yang penuh kesederhanaan.

Kesimpulan asal katayang terdekat adalhshuufun atau bulu.tashifiatul quluub,artinya membersihkan atau menggosok hati, sedangkan orangnya sendiri bernama sufi.

Peralihan dari zuhud ke Tasawuf

Peralihan dari zuhud ke Tasawuf


            Postingan saya kali ini membahas mengenai peralihan zuhud ke Tasawuf. Sejarah mencatat bahwa benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad saw. Ini dapat dilihat dalam ibadah,perilaku,dan peristiwa dalam kehidupan pribadi Nabi Muhammad saw.Berikut kisah yang berhubungan:

Asal Usul Zuhud

Asal Usul Zuhud
Berikut akan Saya paparkan sedikt mengenai asal usul Zuhud. Dahulu para peneliti (oriental) seperti Nicholson dan pengikutnya berpendapat tentang factor yang mempengaruhi asal-usul munculnya zuhud atau pemahaman sufisme dalm Islam antara lain: § Dipengaruhi oleh ajaran rahib-rahib Kristen § Dipengaruhi oleh ajaran rahib Budha dengan faham Nirwananya § Dipengaruhi oleh ajaran Hindu § Dipengaruhi ole phytagoras yang mengharuskan meninggalkan kehidupan materi dalam rangkan membersihkan roh. § Dipengaruhi oleh ajaran Platinus yang menyatakan bahwa dalam rangka pennyucian rohyang telah kotor, sehingga bias menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia Menurut pendapat Abu Al-Ala Afifi yang masih mengambang tentang asal uuslu zuhud yang diperoleh dari para peneliti antara lain: § Berasal dari atau dipengaruhi oleh India dan Persia § Berasal atau dipengaruhi Nasrani § Berasal dari atau dipengaruhi oleh berbagai sumber yang berbeda-beda kemudian menjekma menjadi satu ajaran. § Berasal dari atau dipengaruhi ajaran Agama Islam . Untuk factor yang terakhir ini Abu Al Afifi merinci lebih jauh menjadi tiga: o Ajaran agama asalm yan terkandung dalam AlQuran dan Al Hadist mendorong untuk hidup wara dan zuhud o Dengan adanya fenomena social politik ketika itu , ada sebagaian masyarakat dan ulama tidak ingin terlibat dalam kemewahan dunia dan mengambil sikap untuk tidak ikut dan mengasingkan diri agar tidak terlibat dalam pertikaian,sehiangga mereka hidup dalam suasana keruhaniaan. o Reaksio terhadap keilmuan fiqih dan kalam, sebab keduanya kurang bias memuaskan dalam pengalaman agama Islam.Pendapat yang ter akhir ini perlu dikoreksi ,sebab munculnya ilmu fiqih dan ilmi kalam dan sebagaiannya setelah zuhud. Pada akhirnya para orientalis seperti Nicholson dan Louis Massignon dari Perancis setelah melakukan kajian yang mendalam tentang irfan(makrifat) dalam Islam, mereka mengakui bahwa sumber prinsip irfan(makrifat) adalh Al Quran dan Al Hadist.

Sejarah Singkat Tasawuf

Sejarah Singkat Tasawuf
-->


            Pembahasan saya kali ini mengenai awal mula dan sejarah Tasawuf dalam dunia Islam.
Pada masa Rasullulah Muhammad saw belum dikenal istilah Tasawuf.Kata tasawuf dan sufi belum dikenal pada masa awal Islam, namun tanda-tanda sufi dan ilmu kesufian itu sudah ada,

Jangan Kecewa dengan Perolehan Duniawi

Jangan Kecewa dengan Perolehan Duniawi
# Jangan Kecewa dengan Perolehan Duniawi  #



Pernakah kalian mendengar dan mengetahui sabda Nabi “Kalian semua sama saja dihadapan Allah SWT,kecuali orang yang bertakwa dan beramal shaleh diantara kalian.”.Sebenarnya banyak kejadian yang membuktikan kebenaran hadist ini.Entah kalian percaya atau tidak beberapa kisah ini setidaknya membuktikan kebenaran sabda Nabi.

RISALAH 11 (FUTUHUL GHAIB)

RISALAH 11 (FUTUHUL GHAIB)


Risalah 11

 Apabila timbul di dalam benakmu keinginan untuk kahwin, padahal kau fakir dan miskin, dan kau tak mampu memenuhinya, maka bersabarlah dan berharaplah senantiasa akan kemudahan dari-Nya, yang membuatmu berkeinginan seperti itu, atau yang mendapati keinginan semacam itu didalam hatimu, niscaya Ia akan menolongmu, (entah dengan menghilangkan keinginan itu darimu) atau dengan memudahkanmu menanggung bebanhidupmu itu, dengan mengurniaimu kecukupan, mencerahkanmu dan memudahkanmu di dunia dan akhirat. Lalu Allah akan menyebutmu sabardan mahu bersyukur, kerana kesabaranmu dan keredhaanmu atas ketentuan-Nya. Maka ditingkatkan-Nya kesucian dan kekuatanmu. Dan Allah berjanji untuk senantiasa menambah kurnia-Nya atas orang-orang yang bersyukur, sebagaimana firman-Nya : "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS.Ibrahim: 7)Maka bersabarlah, tentanglah hawa nafsumu, dan berpegang teguhlah pada perintah-perintah-Nya. Redhalah atas takdir Yang Maha Kuasa, dan berharaplah akan redha dan kurnia-Nya. Sungguh Allah sendiri telah berfirman: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan menerimaganjaran mereka tanpa batas." (QS. Az Zumar : 10)
Sumber: