Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Shalat sunat witir termasuk sebagian dari shalat rawatib karena itu shalat witir lebih utama dari shalat sunat yang lainnya karena diterangkan di dalam hadis: اِنَّ الله َ اَمَرَ كُمْ بِصَلاَهٍِ هِيَ خَيْرُ لَكُمْ مِنْ خُمُرِ النِّعَمِ وَهِيَ الْوِتْرُ “Allah telah menganugerahkan kamu suatu shalat yang lebih baik bagi kamu dari menyedekahkan beberapa ekor unta, yang lebih baik ialah shalat witir” (HR. Turmuzi dan Hakim dari Kharijah bin Hazafah). Sekurang-kurangnya jumlah rakaat shalat witir satu rakaat, dan sebanyak-banyaknya sebelas rakaat dan antara satu dan sebelas rakaat itulah yang pertengahan.Dan shalat witir hanya dikerjakan ganjil rakaatnya,tiga rakaat,lima rakaat,tujuh rakaat, atau Sembilan rakaat.Kalau shalat witir dikerjakan genap umpamanya empat rakaat atau delapan rakaat tidaklah terhitung shalat sunat witir, tetapi berubah menjadi shalat sunat yang lainnya dan tidak mendapat pahala seperti shalat witir,tetapi mendapat pahala seperti shalat sunat lainnya.Inilah yang dinaskan oleh Syekhul Islam di dalam kitab “Syarah Raudah”,Syekh Ibnu Hajan di dalam kitabnya “Fathul Jawad” yang berbeda dengan yang ditulis oleh Syekh Ibnu Hajar didalam kitabnya “Tuhfah” yang mengatakan diberi pahala sama dengan pahala shalat witir sebagaimana orang yang menggabungkan shalat sunat witir dengan shalat sunat tarawih.Dinamakan witir karena jumlah rakaatnya sebelas. Imam Nawawi berkata di dalam kiitabnya “Ma’mu” sekurang-kurangnya jumlah rakaat shalat witir yang paliangbaik adalah tiga rakaat dan sesudah itu lima rakaat dan sesudah itu tujuh rakaat dan sesudah itu Sembilan rakaat. Kalau shalat sunat witir dikerjakan lebih dari ebelas rakaat maka tidaklah sah shalat witirnya, karena Nabi saw bersabda: مَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَبِخَمْسٍِ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِثَلاَثٍِ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍِ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan lima rakaat, maka perbuatlah. Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan tiga rakaat, maka perbuatlah. Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan satu rakaat, maka perbuatlah” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Nasai dari Abi Ayyub). Dalam hadis lain diterangkan: اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍِ اَوْسَبْعٍِ اَوْاِحْدٰى عَشَرَفَلَوْزَادَعَلَيْهَا لَمْ يَصِحْ وِتْرُهُ “Kerjakanlah shalat witir lima rakaat, tujuh rakaat, sembilan rakaat atau sebelas rakaat. Maka kalau lebih dari itu, tidaklah sah witirnya” (HR. Daraquthni). Waktu mengerjakan shalt witir adalah antara waktu isya sampai dengan terbit fajar shadik dan kalau dikerjakan shalat sunat witir sebelum waktu isya maka berubah menjadi sunat mutlak.Shalat sunat witir dikerjakansesudah mengerjakan shalat malam dan melambangkan shalat witir sampaiakhirmalam labih baik kalau sudah terbiasa bangun malam.Nabi saw bersabda: اِجْعَلُوا اٰخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراًَ “Jadikanlah shalat witir kamu dari shalat yang terakhir pada waktu malam” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar). Dan kalu tidak terbiasa tengah malam maka shalat witir boleh dikerjakan pada awal malam seperti yang diterangkan oleh Rasulullah: مَنْ خَافَ اَنْ لاَيَقُوْمَ مِنْ اٰخِرِاللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَمَنْ طَمَعَ اَنْ يَقُوْمَ اٰخِرَهُ فَلْيُوْتِرْاٰخِرَاللَّيْلِ “Barang siapa takut tidak terbangun pada tengah malam, maka hendaklah dikerjakan witir pada awal malam. Dan barang siapa yang ingin bangun pada pertengahan malam, hendaklah dikerjakannya witir pada akhir malam” (HR. Muslim dari Jabir). Bagi orang yang mengerjalan shalat witir lebih dari satu rakaat boleh menggabungkannya dalam satu salam pada rakaat terakhir dan boleh dengan dua kali tahyat pada rakaat terakhir, karena kedua cara ini diriwayatkan oleh Muslim dari Rasulullah. Namun dengan satu tahyat lebih afdhal dan menggabungkan dengan dua kali tahyat karena terlepas dan kemiripan dengan shalat magrib.Kalau shalat witir digabungkan menjadi tiga rakaat, tidak boleh disambung melebihi dari dua tahyat dan tidak boleh dikerjakan yang pertama dua tahyat sebelum selesai dua rakaat yang kedua karena yang seperti itu menyalahi dari yang diperbuat oleh Nabi saw. Menceraikan antara dua rakaat dengan salam umpamanya berniat untuk mengerjakan dua rakaat lebih atau dan menggabungkan dalam beberapa rakaat, karena hadis yang menerangkan diceraikan lebih banyak dari yang digabungkan seperti yang diterangkan dalam kitab”Majmu”.Diantaranya hadis yang disepakati bahwa Nabi mengerjakan shalat witir antara isya dan terbit fajar sebanya sebelas rakaat dan member salam pada setiap dua rakaat dan sesudah itu dikerjakannya lagi satu rakaat sesudah itu member salam dan membaca bacaan-bacaan lain. Adapun orang yang melarang menceraikan dan wajib menggabungkan seluruhnya dalam satus alam saja seperti Imam Abu Hanifah dan pendapt ini jelas menyalahi sunnah yang sahih karena itu dapat dikatakan pendapat ini tidak dapat diperpegangi.Sebagian sahabat Syafi;I hanya memakruhkan menggabungkan seluruh rakaatnya dalam satu salam.NAmun sebagian ulama seperti al-Qaffal dan Kadi Husein mengatakan menggabungkan seluruh rakaatnya dijadiakan dalam satu salam membatalkan shalat karena jelas yang seperti itu dilarang karena menyerupai dengan magrib.dan sunat tidak mengulang shalat witir sekalipun shalat tahajud dikerjakan sesudahnya.karena Nabi saw.bersabda: لاَوِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍِ “Tidak ada dua witir dalam satu malam” (HR. Abu Dawud dan Turmuzi dan Thaliq bin Ali – Turmuzi berkata Hadits ini hasan). Kalau shalat sunat witir dikerjakan tiga rakaat maka sunat dibaca sesudah surah Fatihah pada rakaat pertama surah al-Ala,pada rakaat kedua sesudah Fatihah dibaca surah al-Kafirun,pada rakaat ketiga sesudah surah Fatihahmembaca surah al-Ikhlas,al-Falaq, an-Nas.Karena yang sepeti ini telah diriwayatkan Nabi saw. Dalam shalat witir pada bulan Ramadhan disunnatkan berjamaah sekalipun sebelum witir telah dikerjakan shalat tarawih berjamaah atau tidak berjamaah. (Kitab Sabilal Muhtadin 561-565)

Tugas Manusia (Bagian Ketiga)

Jika manusia mengikatkan diri dengan dunia sekelilingnya (mumkin),maka jiwanya akan terbelenggu.oleh sebab itu,manusia harus sadar dan mawas diri untuk brusaha mengetahui siapa diri ini sebenarnya. Kesadaran mawas diri untuk mengetahui siapa sang diri ini sebenarnya tidak akan diperoleh dengan serta merta, namun memang harus dilakukan dengan latihan yang didasari ilmu pengetahuan yang baik dan benar supaya memperoleh pengalaman langsung ebagaimana yang telah dicontohkanoleh para sufi atau arif-billah. Dan Dia menundukkan malam dan siang,matahari dan bulan unukmu.dan bintang-bintang itu ditundukkan(untukmu) dengan perintah.Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda(kekuasaanAllah) bagi kaum yang memahami (Nya).(QS.An Nahl, 16:12). Allah menundukkan dan mengatur peredaran matahri,bintang dan bulan dengan perintah-Nya.Peraturan inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta,sebagaimana harus bertingkah laku. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang ,matahari dan bulan.masing-masing dari keduanya itu beredar didalam garis edarnya(QS.Al Anbiyaa’, 21:33) Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya,padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu;Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. An Naml,27:88). Ini juga disebut hokum alam atau peraturan yang diikuti oleh alam. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap,lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:”Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab:”Kami datang denga suka hati” .(Qs. Fushilat,41:11). Ayat ini membuktikan bahwa matahari,bumi,bulain dan seluruh alam taat mengikuti segala perintah dan aturan Allah swt.Peraturan yang telah ditetapkan Allah itu tidak berubah selamanya.Firman-Nya: “Sebagai sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu”.(QS. Al-Fath,48:23). Apabila pandangan hati, jiwa, dan tubuh kita luruskan kepada Allah,tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah-Nya,selalu merasa dekat dengan-Nya,selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat.Kita akan merasa bahwa setiap perilaku dan gerak-gerik kita berada dalam pengawasan Allah.ibarat seorangartis sinetron akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan peranannya,berakting dengan penuh penghayatan dan berupaya untuk tidak menyalahi scenario yang telah ditentukan sang sutradara.Sebagaiman firman-Nya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,maka (jawablah),bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku,agar mereka selalu berada dalam kebenaran(QS.Al-Baqarah,2:186) Demikianlah pandangan pemikiran yang sederhana dan logis ,jika kita mau menerimanya, bahwa adanya diri(mikrokosmos), dan alam semesta(makrokosmos),telah mengajak kesadaran untuk sampai kepada pembuktian adanya Tuhan(Allah). Dapat ditarik kesimpulan bahwa tubuh ini akan taat seperti taatnya matahari dan bulan.Ia akan hidup teratur seperti teraturnya matahari serta planet-planet menurut garis edarnya,sehingga tidak berbenturan.Ia akan patuh seperti patuhnyanmalaikat(fitrah yang ditetapkan Allah kepada manusia). Peran manusia telah ditetapkan, diatur dengan sangat rapi sekali.Bukan hanya ukuran fisik,tapi juga berapa besar rejeki,keterampilan,daya piker,dan juga waktu yang diijinkan menghirup udara segar didunia. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya(QS. Al Furqaan, 25;2). Oleh karena itu, manusia yang sadar sebagai khalifatullah hendaknya berakhlak dengan alhlak Allah,berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan member keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah. Sumber: BUKU : WUJUD (MANUSIA) Hb.Zulkifli bin Muhammad bin Ibrahim Banahsan bin Syahab If.Sentot Budi Santosa bin Danuri bin Abdullah

Tugas Manusia (Bagian Kedua)

Iblis beserta kroni-kroninya atau anak cucunya bersumpah akan menyesatkan manusia dengan cara apapun dan dari jalan manapun. Hal ini dapat dilihat dala Al-Quran Surah Al-A’raaf ayat16-17 dan An-Nisaa’ ayat 118-119 yang berbunyi: Iblis menjawab,”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (Qs.Al-A’raaf, 7:16) Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka,dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur(taat).(QS. Al-A’raaf,7:17). Sesungguhnya pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan jahat untuk mencelakakan manusia. Yang dila’nati Allah ,dan syaitan itu mengatakan, “kami benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk kami)”.(QS. Nisaa’, 4:118). Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak),lalu mereka benar-benar memotongnya,dan aku suruh mereka(mengubah ciptaan Allah),lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barang siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.(QS.Nisaa,4:119). Peristiwa ini juga diceritakan dalam surah Al-Israa’ ayat 62-64: Ia (iblis)berkata, Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau member tangguh kepadaku sampai hari kiamat,niscahya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebagian kecil(QS. Al- Israa’ 17:62). Pergilah,barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya Neraka Jahanam adalah balasanmu semua,sebagai suatu pembalasan yang cukup(QS. Al-Israa’, 17:64). Dan bawalah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaithan kepada mereka melainkan tipuan belaka.(QS.Al-Israa’,17:64) Dengan melihat dialog Allah dengan malaikat dan Iblis ,kejadian manusia, perintah Allah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah.Sebagai khalifah seharusnya dan selayaknya menyesuaikan dengan yang mengangkatnya dirinya sebagai khalifah. Apakah daku bisa dan bagaimana caranya? Menghayati hakikat manusia bisa dimulai dari kesadaran fisik sampai kepada kesadaran diri pribadi yang sejati.Dengan inilah manusia dapat menunaikan pengabdiannya kepada Allah sebagaimana fitrahnya.Sebagaiman firman Allah: Maka hadapkan lah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah.(itulah) agama yang lurus;tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui(QS.Ar-rum, 30:30). Kalau kita mau mempelajari Al-Quran, didalamnya terdapat banyak penjelasan tentang apa dan siapa manusia itu sebenarnya.Namun,yang demikian ini tidak akan menjadi suatu kesadaran apabila kita tidak pernah membawa pikiran, jiwa sertaperasaan kepadafitrah kejadiannya. Penyebabnya adalah karena kebanyakan manusia terlena dengan alam kebendaan.Jadi,bukan ilmu tasawuf yang sulit dimengerti. Contoh sederhana seorang bayi yang lahir dari rahim ibu: · Bayi lahir bukan atas permintaan dan kehendaknya · Bayi tidak mengerti untuk apa dilahirkan · Bayi tidak punya apa-apa bahkan malupun tidak punya Orang sekitar memberikan kasadaran.Bayi mulai dikenalkan dengan dirinya bahwa namanya si fulan.kemudian diajarkannya nama-nama,ini telinga,ini kepala,ini hidung,ini tangan,ini kaki,dan seterusnya dengan batasan kesadaran yang sangat sempit sekali. Kesadaran sempit ini membuat diri terbelenggu dana bias tersesat dalam ketidaktahuansiapa diri ini yang sebenarnya. Ikuti kelanjutan artikel ini di postingan berikutnya!